Cerita Perjalanan Menuju Puncak Gunung Slamet

1 perjalanan selalu bisa menghasilkan 1000 cerita. Nggak ding, bullshit banget, nggak sampe 1000 kok, paling cuma puluhan. This is Slamet. Slamet punya banyak jalur, yang terakhir kusambangi ini lewat Baturaden, Purwokerto. Ada jalur baru, dan lama.

Jalur lama udah ditutup, karena jalan ke puncak konon kabarnya terlalu extreme. Baturaden ini menurutku, pengalaman sejak pertama mendaki gunung sampai sekarang, adalah jalur terberat. Start awal jalan aja, ketinggian baru 700an mdpl, sedangkan Slamet you know lah tingginya berapa.

Jalur Baturaden didominasi vegetasi yang masih sangat rapat, asri, LINTAH yang sangat lincah berlarian kesana kemari berburu darah (total di kakiku 9 gigitan), lolongan berbagai macam hewan (monyet, burung, babi, anjing yang tiba2 membisu, mungkin sedang diburu predatornya), jalur pos 1 sampai 2 yang landai dan membuat kita santai dan damai dan cekakak cekikik, dari pos 3 sammmmpai puncak, kuatkanlah kakimu karena kau tidak akan menemukan bonus, jalan terjal menanjak tiada henti yang membuat pegal serasa sedang turun. Tau rasanya dengkul dan kempol waktu turun gunung?

Seperti itulah rasanya menanjak di baturaden, pegal sebelum waktunya. Jangan sungkan2 minta istirahat ya, makan tuh gengsi biar kenyang. Oya jangan sampai logistik kurang, kemarin kami bawa cuma ngepas, karena pengalaman2 kemarin logistik selalu berlebih.

Baru pernah naik se-kelaparan ini, jadi syedih. Mungkin tenaga dikuras banget jadi kalori kebakar terus dan selalu minta diisi ulang. Untuk air minum nggak perlu khawatir, karena di pos 1, 2, 4, 5 ada sumber air. Beberapa jalur sudah tertutup semak belukar sehingga kurang jelas (hampir mirip slamet via gunung malang).

Soo nggak rekomendasi banget trek malem, idealnya start jalan pagi (jam 6) jadi pas sampe di tempat camp (pos 4 atau 5) nggak kena malem. Kami kemarin sampai pos 4 total 9 jam. Ke puncak 3 jam, jadi 12 jam. Turun 7,5 jam. Kenapa sangat lama? Karena jalurnya nggabisa buat lari, pohon dan akar melanggrang kesana kemari, dan licin. Kami nggak dapet sunrise (belum pernah dapet di slamet), yg selalu didapat adalah angin kencang dan badai. Akan tetapi but, yang penting slamet.